Chapter 3

Last Chapter…

Prolog…

Hari yang gaduh… dapur ini terasa penuh sesak dipenuhi pecahan perabotan…

Hari itu ku hampir gila… ironis untuk seorang bocah yang baru duduk di bangku SMP… semakin ironis kala ini harus terjadi setiap saat… hingga membuatnya menjadi seorang pemurung, sekaligus liar kala berada di luar bendungan pagar halaman rumah… emosi nya mudah meledak, hingga badan nya pada saat itu tak mampu berdiri karena perlawanan bodohnya terhadap kondisi yang tak mugkin dimenangkannya… tulang nya mungkin telah remuk ketika ia tersadar…

Sebelumnya…

Pertengkaran itu terlalu riuh untuk pagi yang mendung dan gerimis, keriuhan seakan terpasung oleh posisi kamar yang berada di ruang paling dalam… Bocah kecil ini terlalu bodoh untuk masih terjaga, dirinya terbiasa terjaga hanya untuk merenung sembari bertanya apa lagi yang akan kuhadapi esok… sungguh dia lupa dia harus berangkat sangat pagi…

Kegaduhan terlalu memekakan telingan, suara memekik dan memecah dinding kusam… “Cukup Pa… aku letih dengan kodisi seperti ini… pernah sadar jika sifat mu menyakiti kami berdua?”… pertanyaan lugas yang terlalu naif, dan disusul respon yang tak asing dengan bunyi pilu… “Plak”… sesaat ku terbayang ibu terjerembab… seketika bocah itu pilu dan merinding… ku masih ingat kekarnya tubuh Papa, si mantan jawara dikesatuannya…

Aku bergetar, jujur tak berani ku melangkah, suara balasan dan cacian terdengar pekik di telinga, bahkan ku tak mampu mencerna apa kalimat yang terucap… pagi itu jantung seperti terjerat… nafas ku sesak dan penyakit pernafasan ini semakin kambuh…

ku ingin pergi…

ku ingin menangis…

ku ingin semua sepi… namun entah mengapa seketika aku berteriak histeris…

Teriakan keputus asaan yang membuat pintu terbuka, dan aku terpana… mata nya terlihat merah dan Ibu ku bersimpuh lemas di sisi lain… bibir ku gemetar sembari berbisik memanggil “mmaammaaa… ma… aku takut…”

aku yakin ku mendengar bisikan… “lari… lari nak”… tapi ku diam, ku hanya memeluk pinggiran tempat tidur kayu hingga berderik… sambil terisak ku coba bersuara… “ampun…” suara ku lemah…

Semua terjadi seketika, namun terasa sangat lama… walau perih, namun pada siat itu terjadi, badan ku cukup kuat tuk menahan segala luapan emosi, sesekali tubuh terpelanting, tergoncang dan tercengkram, namun tetap bocah ini bisa berlalu bahkan merangkak hanya tuk hampiri sang ibu dan memeluknya… “mama… mama…” iya menangis segagah mungkin, dengan hanya mengatup bibir… ku tegar kala menatap wajahnya tersenyum tipis sembari badan ku terasa terkoyak…

Kuat, ya aku kuat ketika ibu memandang, semua kan tak terasa asal ku bisa menatap wajahnya… aku kuat… sangat kuat… Aku cinta mereka, khususnya Ayah, walau ku tidak kuasa bisa berkata bahwa ku mencintainya… yang ku tau dia galak namun ku yakin ayah ku pun berjuang, melawan iblis yang menggerakan tubuhnya, menghitamkan wajahnya, memerahkan mata nya… sarot mata ku berkata pada ibu, bahwa ku tetap mencintai ayah walau ayunan tangannya terus merusak punggung ku…

Sesaat…

ku terbangun di depan pintu dapur, entah bagaimana ku ada di sini… sepertinya ayah ku telah letih dan menangis, sisi iblisnya dah bosan mengamuk, ibu masih tetap memeluknya walau ku lihat raga nya tertatih… posisi ku dah lebih dari nyaman, terbaring lurus dan tanpa beban… ku kembali memejamkan mata, sembari tersenyum… aku bahagia… ku lupakan semua… demi momen indah kala memandang mereka bersama saling mengisi… aku ikhlas…

Bayangan ku memudar… raga ku tertarik jauh ke dalam… hingga ku terjaga… ku memandangnya masih dalam memeluk ayah dan menggapai tangan ku… ku terjaga dari Mimpi ku…

Bunga tidur ini yang senantiasa mengisi banyak malamku hingga hampir 1 tahun… Disamping masih terbaring seorang dara yang selalu menemani ku sepanjang studi ku, Dia, wanita muda yang mencium dan menangis di hadapanku beberapa bulan lalu di sudut kampus… Dia masih di sini, disamping ku, tuk jalani hidup bersama menjadi kekasih ku, ia lebih dari tau bahwa ku sering terjaga di tengah malam… dia sadar bahwa pelukannya menenangkan ku di setiap waktu…

Masa studi ku di kota ini mungkin segera berakhir, dan mungkin itu adalah perpisahan kami… namun keyakinannya selalu menjaga emosi ku yang kadang terusik kala memoria itu selalu kembali, karena Ia pun tau betapa ku menyayangi Ayah dan Ibu ku walau apapun yang terjadi… dirinya kini telah menyatu, dan terus saja dia sabar menanti ku membuka diri memberikannya seluruh perasaan ku… dia tau banyak keilangan yang ku hadapi, banyak kegetiran yang ku lewati… bahkan dia tau aku traumatik dalam hidup… namun hingga saat ini, privacy nya adalah hidup ku, demi cintanya…

Hati ku berdetak… seakan ada sesuatu hidup di dalamnya… memberikan sebuah keyakinan bahwa cinta ku masih ada… ia seperti ibu yang berjuang untuk dicintai… ku masih teringat waktu ku bertanya “Ma… sampai kapan?…” ibu hanya menjawab “Sabar nak… Papa hanya sedang ada masalah… kamu kuat ya demi Mama”… sebuah kalimat yang hingga kini masih membuat ku menangis bila teringat… hingga akhirnya ku akui Ibu benar, ku yakini di malam ini ada wanita yang mencintai ku seperti mu Ibu, bahkan wanita ini selalu ada dan terus memeluk ku dengan senyum raut paras nya yang menegaskan impiannya bersama ku…

Detik itu… ku percaya, jawaban ku terjawab semua… “sampai kapan?”… jawabnya “Hari ini…”

Ayah…Ibu… Aku bahagia… dan ku mulai lupa nyeri di punggung ku ini… ya aku bahagia…

About these ads