Chapter 2

Last Chapter…

Pagi ini indah… Angin semilir berhembus liar diantara dua gedung bertingkat yang dindingnya terbuat dari kaca… embun masih terasa membahasahi celana jeans gelap yang ku kenakan saat duduk di rerumputan, ku bersyukur masih ada taman seperti ini di kota ini, sebuah taman yang tertata rapih di tengah kawasan gedung utama kampus elit ini, kampus tempat ku memulai perjalanan hidup dan cinta ku, kampus yang terletak di salah satu kota satelit Ibukota… sekali lagi jangan lihat kampus ini elit, jika bukan karena subsidi yayasan, aku, tak akan ada di sini… sebuah kondisi yang harus ku syukuri dengan suka cita, bukan haru yang mengendap dalam hati…

Tak berbeda dengan hari lain aku selalu menghabiskan waktu menunggu jam kuliah dengan hanya duduk di rumput taman, sesekali mengemil jajanan di kantin dadakan belakang gedung tempat bercengkrama para supir, sebenarnya ada kantin yang layak, namun umumnya fasilitas itu hanya duduk para pengguna jasa supir dan pengemudi-pengemudi terkategori tunggangan elit walau memang sesekali orang seperti saya yang mendapat rezeki ikut mencicipi tanpa ada kewajiban tuk merogoh dompet… jadi berhubung saya menyupir Speda Ontel agak Sporty ini, ya berarti saya layak makan di belakang gedung tersebut… hahaha rintihan orang iri… lebih baik ku menari dengan pena ku, menari pada sebuah buku notes kecil yang senantiasa memberi ruang tuk isi hati ku…

Tak terasa memang… beragam tulisan telah ku ukir, hanya tuk menemani nuansa pikiran ku yang sering kali bisa fokus, padahal banyak target menunggu, bahkan hanya berselang 1 bulan ke depan target studi ku semester ini harus selesai… hufff… memang aku mulai jenuh, ditengah keramaian dan silih bergantinya manusia-manusia –mayoritas kaum hawa- baru yang datang dan pergi dikehidupan ku… Bodoh nian hati ini yang kaku dan tetap tertutup… ku tak mau beralasan, karena nyatanya tetap saja tak bisa ku melupakannya… walau telah dua tahun berlalu smenjak ku tinggalkan kota itu… waktu yang tidak singkat tuk bisa belajar menerima dan membuka hati…

Tenang ku terus merangkai kata… di ujung notes tetap manis terpampang wajah nya… wajah yang telah lama hilang, namun begitu bodohnya aku membuatnya selalu nyata, hingga kebodohan ini yang selalu menghancurkan ku… sebuah kebodohan yang acap kali membawa petaka dalam setiap hubungan ku… bahkan sudah tak terhitung jari hubungan ku kandas, hanya karena ego ku tuk tetap menyimpannya dalam hati… entah kenapa hati ini hanya tertuju pada wanita hilang yang cantik, lembut, solihah, ulet serta penurut itu… wanita yang prinsip dan kesabarannya yang selalu membuat ku kagum… semua fakta yang membuat ku melihat sebuah perjuangan tuk membuktikan upayanya tuk menjadi orang biasa ditengah kegelimangan harta yang menaungi hidupnya… seorang yang selama ini meminta ku menjadi lebih baik… baginya “hidup keras yang di rasa, bukan berarti nasib yang kurang beruntung, karena pada dasarnya perjuangan itu selalu ada, walaupun kita tidur di tengah himpitan emas”… satu hal yang sampai sekarang tak kunjung bisa ku pahami dengan apik… aku masih dengan tegas bertanya, “mana mungkin harta mu tega melihat mu bersusah payah”…

Sekali lagi ku tertawa… itulah aku, seorang yang mudah iri dan tak mau mendengar kalimat kiasan… bagi ku “sudah lah jangan munafik, nikmati saja harta mu, toh itu milik mu”… Aku tertawa miris bila harus mengingat angkuhnya aku, disaat itu pula ku selalu mengisi benak ku dengan kesadaran bahwa ia pergi dengan prinsip hidup nya, ia pergi dengan mengejar mimpinya pada sebuah “kubangan”, sebuah upaya pengharapan semu, agar suatu saat kubangan tersebut menjadi jernih hingga memperlihatkan “emas” nya yang tenggelam di dasar… Tapi Biarlah… Hiduplah dia di Hati… pahat cinta nya di hati memang tegas… tapi ku kan terus mencari tulang rusuk ku yang sesungguhnya… karena dia yang nanti akan melengkapi ku, bukan yang telah hilang dan berakhir…

Wew ternyata bisa juga hati ini berpikir logis… sebuah ide yang senantiasa terlintas… namun sekali lagi aku kandas melawan permainan pikiran dan hati ku… entah kapan ku mampu… sesaat itu pula cahaya nurani kembali redup…

Fiuh… tak terasa matahari mulai meninggi… nampak nya tulisan ku pun telah selesai… sebuah hasil ku hari ini… sebuah rangkaian Goresan Pena Terakhir yang ku rangkai…

 

*Aku menangis dalam nikmatnya cinta ini

Hanya bayang mu yang hangat memeluk ku

Erat hingga tak mampu ku berdiri

Bahagia walau ternyata diri ini bagai terpaku*

#Aku Ini daun kering ditumpukan rumput luas

Tak Tau dari mana asal ku terjatuh

Upaya tuk mencari ranting itu telah goyah

Hingga aku makin hilang tak berbekas#

“Sekali aku terpuruk dalam kubangan

Tapi sekali itu pula aku jelas tenggelam

Dengan harap cinta mau ulurkan tangan

Ku tertunduk resah bertanya kenapa diam

Tak berani ku bertanya pada sang dewi

Hanya mampu ku memahat dengan tinta

Sebuah goresan pena terkahir dariku ini

Kutujukan hanya untuk mu sang tercinta”

(made with tears sealed with a wish)

… sebuah harapan semu…di saat semuanya telah hilang…

 

Beberapa saat berselang… saat ku masih termenung mengenai arti tiap kalimat yang ku tulis…

“Haaaaiiii”… sepasang tangan mulus memeluk leher ku dari samping… seorang gadis, yang senantiasa mengisi hari ku dua bulan terakhir ini… seorang gadis yang telah beberapa bulan itu pula meminta ku tinggal di rumah kecil nya pada sebuah komplek cluster bergaya eropa yang indah… paras cantik dan wajah berseri… terlihat jelas ingin mencium ku, namun nampaknya segan ditengah keramaian… “Sayang lagii Apa ??” dengan nada yang manja… wew.. sayang ???.. wait  !! kata apa itu “sayang”… *tanya ku dalam hati* sembari wajah ku tetap tersenyum, “ini lagi baca-baca aja”… sambil sibuk memasukan notes buluk berisikan sejuta curahan hati ini, seraya menyembunyikan foto dan tulisan ku… “kelas yuk”… kembali dengan nada manja… “iya” jawab ku seraya mengangguk…

Tiba di kelas yang riuh.. Ia masuk menggenggam erat tangan ku… Aaaahhh benci aku dengan momen seperti ini, kenapa dia menjadi begitu vulgar menyatakan hubungan sepihak versinya ini, dihadapan khalayak pula… apa karena malam-malam itu, ahhhhh waktu itu ku menyangka semuanya akan berakhir dengan cepat… kenapa jadi berkepanjangan seperti ini segh… sungguh menyebalkan…

Di tengah keramaian sekilas mata ku tertuju pada seseorang… haha ternyata musuh bebuyutan ku selama ini, ternyata kita ambil mata kuliah yang sama… sekilas ku melihat tatapan sinis dikemas wajah penuh amarah.. sesaat tau, hati ku jumawa… “oh si cunguk itu” umpat ku penuh kesombongan… refleks ku rangkul dara manis samping ku ini dengan mesra… tentunya dengan tawa lepas dalam hati… tak akan berani ia menyentuh ku sekarang… tentunya tak akan lupa sore itu ku menginjaknya sambil menghardiknya untuk mengucap maaf pada gadis cantik yang ada disamping ku ini… hahaha dasar bodoh… apa susahnya segh merayu, kenapa harus menggunakan cara memaksa, di dalam mobil berkaca aquarium pula… hihihi… kusadari, ternyata aku adalah pahlawan untuk dara manis ini…

Duduklah kami berdampingan… “aku ke belakang dulu ya” ucap ku yang dijawab dengan anggukan.. *beberapa saat kemudian, aku kembali ke tempat duduk* seperti biasa, notes merangkap binder ini ku buka *tapi ku curiga dengan posisinya yang berubah… hmm… lancang pikir ku*… terlihat daun kering yang menjadi lambang sebuah negara di benua amerika -salah satu kenangan yang tersisa dari nya- miring dan hendak mencuat keluar… karena penasaran ku menariknya dengan paksa, namun, *bluk* Notes butut malah terjun bebas dan menyentuh lantai berkarpet… sesaat itu pula ada tangan mungil menggapainya dari lantai…

Ia merapihkan segala atribut penunjang hati ku dalam notes tersebut, termasuk memasukan dua lembar foto wanita berbaju hijau tua lengan panjang, jeans hitam, berhiaskan kalung oval berinisial “R”… yang ikut berserakan, ke bagian tengah notes, ku tak lagi mau melihat kearah samping… ku tau pasti wajahnya akan penuh kekecewaan…

ia tak langsung mengembalikan notes ku, ku melirik dengan ujung mata, dengan maksud mengintip, entah kenapa aku menjadi tak enak, padahal baru saja aku bertanya apa arti kata “sayang” yang dia padankan sebagai pengganti nama ku… –samar- ia hanya terlihat menulis secarik kertas kecil…

“Hei”… seraya mencolek lengan ku… kenapa wajahnya tetap ceria… tapi pasti dia cemburu… aku yakin itu… dikembalikannya notes ku, dengan tetap meletakan secarik kertas pesan rahasia *whuw kenapa dada ku menjadi berdesir… GOD… aku takut… tapi kenapa ??*…

“Sayang… Puisi nya bagus… buat dia yah (si gadis ber hem hijau)”

*heh* kapan dia baca tulisan ku, dan itu ceroboh bagi ku ?? aku melirik tegas ke arah nya… seperti biasa wajahnya datar sambil pura-pura mencoret-coret kertas kosong berwarna hijau dan bergambarkan tokoh sesame street berwarna biru yang memegang kue… ku yakin dia cemburu, tapi aku yang harusnya lebih marah… apa hak nya tuk membuka barang-barangku tanpa ijin, kecuali memang dia Istri ku… huh ga sopan… baru hendak ku ingin menegurnya… “boleh bicara sebentar ?” ucap nya “aku di tangga ya”…

Berpikir sejenak.. kuputusakan… dia harus tau batas-batasnya !!! *aku bergegas mengikuti nya setelah berselang 3 menit*

Aku melihatnya terduduk di lorong tangga darurat… ia membelakangi ku… tanpa basa basi, semua kelembutan ku hilang saat itu, dengan ketus ku bicara… “Ada apa ?? Mau Bilang kalau kamu kecewa… dengar ya !!! aku sebenarnya ga suka dengan cara mu membuka barang pribadi ku, Jadi tolong kam…” belum selesai aku bicara ia berbalik menghadap ku… air mata mengalir tegas tergambar di pipi… jujur, terkesima aku, semua amarah yang terngiang mendadak sirna, otak ku hampa saat itu… hanya satu yang ku lakukan… dengan sigap ku bergerak mendekatinya dan memegang pundak dan menghapus air mata nya… di moment itu aku sadar, aku salah… tidak setitik pun air mata itu harus terurai… bodohnya aku…

“please… jangan menangis lagi, aku salah, aku ga niat seperti itu”… sambil menatap matanya yang sembab…

Hanya menggeleng… lalu tubuhnya memeluk ku dengan erat… bingung aku dalam posisi ini, tapi aku pun tak berani melepasnya, emosinya terlihat sangat tak stabil… atau malah emosi ku yang terkesan bergejolak… “I Love U”… ucapnya… aku terkesima… tak ku sangka harus dalam momen ini… beberapa menit kami hanya berpandangan… matanya masih berair dan terisak… hingga mendadak iya mencium bibirku dengan mata terpejam… aku sangat jelas melihat ekspresinya… memang selain dengan “dia”, tak mampu lagi ku larut bermain dalam sensasi perasaan, termasuk menutup mata ku saat berciuman…

“Izinkan aku menjadi seperti nya, aku sudah tau semua cerita tentang nya, aku bisa seperti nya” ucapnya dalam peluk ku dengan tatap penuh harap… hati ini bergejolak, dua pilihan yang menghadangku saat itu… “kamu ga salah ??” tanya ku heran… sekali lagi ia hanya menggeleng… “aku Cuma… ppfffttt” ditahannya aku tuk bicara, laksana ia telah mengerti aku hanya akan melontarkan alasan-alasan sekenanya… “cukup ya, jangan rendahin kamu lagi, aku tau kamu seperti apa, dan aku berhak memilih untuk hati aku”… kalimat ini membuat ku terpana saat itu, namun hati ku masih bergejolak… aku melepas dirinya… dan menyalakan sebatang rokok… duduk, bersandar di tiang tangga… sambil aku menatapnya dalam sekali… ia pun mencoba menghatur nafas dengan wajah cemas… bukan hanya sekali ini aku berada di posisi terhimpit perasaan ini, walau memang tak pernah sebergejolak saat ini, umumnya mudah ku berkata tidak, karena memang aku tak butuh hati ini terganti… entah kenapa tersirat kata “iya” dalam benak ku.

Aku memberikan isyarat padanya untuk mendekat… tak ragu ia melangkah… ku menatap tubuh indah yang selalu menemani ku di saat aku sepi… entah kenapa hari ini berbeda… hari ini aku melihatnya bukan pelampiasan nafsu ku, tapi seorang wanita istimewa yang layak akan cinta tulus… huh… ternyata hati ku masih ada… Ku peluk diri nya… dengan sangat erat… dengan tubuh yang bergetar ku mencoba bersuara… “aku coba ya” bisik ku lembut… terlihat ia tersenyum dan lega… hari itu detik itu aku punya kewajiban baru tuk mengucap kata “menyiram rasa sayang” pada hati nya…

Erat Ku memeluknya, dalam ku menciumnya… walau… Mata ku belum bisa terpejam…

-Apa ku bisa ???-