Chapter 1

Ketika semua dimulai…

Rutinitas pagi… terduduk di pinggiran dipan kecil dipojokan ruangan kamar… kamar yang senantiasa terlihat pengap, lembab dan kotor… sisa batang rokok berserak di lantai, pasti karena semalam tidurku amat tak lelap, kaki dan tangan ini sangat leluasa tuk mengacak seprai dan asbak yang tergeletak di sampingku disaat tak sadar aku terlelap…

sebuah pemandangan rutin yang selalu mewarnai hidup ku di sela kesendirian yang tengah ku jalani… tembok kamar yang sebelumnya ramai dengan aksesoris dinding bergabarkan dua manusia tersenyum riang… mendadak hanya terlihat bekas cat terkelupas dan terlihat belang, berhiaskan lubang-lubang kecil sebesar paku dinding…

Fiuhhh… sebaiknya Ku mandi… mengguyur ubun-ubun kepala dengan air dingin… biar larut semua, bersama aliran air yang merayap di kulit tubuh… belum sempat melangkah… terdengar dering Telp lantang bernyanyi… huh… urung niat ku menuju kamar mandi… HP butut hadiah dari sang tercinta… bertajuk prestasi belajar ku, namun sebenarnya media kontrol tuk selalu tau aktifitas harian ku selama kita jauh… tapi sudahlah, toh nanti jika ku pergi ke kota nya, barang ini pasti ku kembalikan, dan semoga semuanya berakhir cepat… karena ku sadari satu kelemahan paling mendasar dalam jiwa ini… tak kuat ku memandang air mata seorang gadis…

*opening SMS* “Mas… Mba Yu sakit, kemarin mendadak terjatuh di tangga…” Sms dari seorang teman yang kenal dengan wanita penting dalam hidup ku…

*Ya Tuhan*

Secepat kilat ku berberes… langsung mengabari seluruh kerabat, bahwa ku berangkat ke luar kota tanpa menyebutkan apa keperluan ku… sebelum ku melangkah dari gerbang, ku coba mengetuk kamar salah satu tetangga kamar, hanya tuk meminjam uang 100rb rupiah… “aku butuh tuk beli tiket ke luar kota, dia sakit dan sekarang di rawat”… tanpa banyak bertanya, uang modal ku melangkah telah ku genggam…

*tiba di Stasiun berwarna hijau muda*

lama ku telah berdiri… antri, sama seperti dulu ku menunggu giliran membeli jatah beras di pasar… hingga ku tiba di loket dengan berbanjir peluh… “satu tiket argo Mba” suara ku parau tersengal… “maaf Pak sudah habis cuma ada ekonomi, itu pun cuma sampai kota pecel”… “Nga papa Mba”… pikir ku dari kota itu perjalanan ku tinggal 5 jam, melewati sungai Brantas dan Kota Apel…

Stasiun dan Terminal terpisah agak jauh… beruntung adik temen baik ku di kota pertama ini telah menunggu dengan motor Honda keluaran terbaru masa itu… hingga hanya berselang beberapa menit saja, aku sudah nyaman menikmati hawa AC di Bus Mewah yang baru kali itu ku jumpai… Perusahaan OtoBus yang namanya berarti “kakek” dalam bahasa sunda…

Sepanjang jalan yang panjang, kenangan itu masih saja teringat… tak sedikitpun mampu mata ini terpejam, sungguh kontras dengan susanan Bus yang penuh dengan melodi mendayu, ditambah hawa yang dingin meresap halus di pori pori kulit…

“Pulang saja sana ke kota mu… aku tak butuh belas kasihan keluarga mu… aku puas dengan hidup ku” Hardik ku seraya membuka pintu apartemen nan mewah… “Tak sedikitpun aku silau dengan dinding emas ini… jadi mulai sekarang pergi dari hidup ku, yang menjijikan menurut mu” ku tutup pintu dengan keras… turunlah aku dengan lift yang membuat ku merasa mual karena tak terbiasa, dengan bersama penghuni lain, yang memandangku aneh, khususnya di bagian kaus ku yang bertulis “Dag*du” dan berlambang Mata… “Sial” umpat ku dalam hati… “jijik orang itu melihat merk baju ku, mentang2 ini produksi nasional… ga tau apa ini baju lagi Trend” ucap ku dalam hati, seraya melirik gambar dibajunya tersebut yang bergambarkan papan surfing… huh belagu !! lirik ku dengan ketus… *ting*… sampai di bawah… satpam menyambut ku “mau saya panggilkan supirnya pak?” kaget lah aku “hah ???”… duh ternyata pertanyaan tersebut terlontar pada cunguk kaya samping ku tadi… “Ahhhh emank sial”…

….

“pak… pak… mau turun sini khan” suara serak memanggil dan menggoyangkan lengan ku… ughhh rupanya  bisa juga ku terlelap… beuhhh… baru saja membuka mata, tapi wajah kasar ini yang terlihat… langsung ku turun tanpa banyak bicara, masih berat pikiran ini tuk bercengkrama… ah, Panas nian kota ini… banyak orang belogat jawa kental namun dengan dialek kasar… ah sudah lah… alamat ini yang harus aku tempuh…

Tiba di lobby Rumah Sakit swasta yang megah… RS internasional yang berdiri baru hampir 3 tahun di Timur kota ini… Tiba ku di ruangan ICU… ruangan yang seharusnya sunyi senyap… ternyata ramai dengan teriakan dan isak tangis… ku terdiam terpaku melihat tubuh lemah terbaring di tempat tidur perawatan… ku mengenal wajah nya, ku mengenal paras nya… Ku tau Kalung itu… kalung yang satahun lalu ku beli dengan hasil ku bergadang mengurus suplai toko di kota setalah Puncak…

lemas badan ku saat itu… tak kuat ku melihat wajahnya ditutup selimut putih, suster dan dokter terlihat menenangkan khalayak yang ada di ruangan putih berbau bahan kimia ini… aku berlari memeluk nya… mengguncang badannya yang lemah… rambut panjang ku terurai menitup wajah pucatnya disaat ku maraung memeluknya… “maaf kan aku… aku ada di sini… bangun sayang… bangun” pinta ku dengan iba… tak ada satu orang pun yang berani melarang ku, entah mungkin takut dengan tampilan ku yang lusuh dan rambut berantakan… hanya satu tangan yang menyentuh pundak ku… tangan seorang ibu yang dulu pernah menampar pipi ku, saat ku menolak tumpukan harta yang menjadi syarat agar ku berhenti bersamanya, dia pikir aku mencinta hanya karena harta !!!… sesosok ibu yang akhirnya menyadari, bahwa anaknya jatuh cinta hingga akhir hayatnya… “Nak” panggil nya… sangat berbeda dengan apa yang ku dengar malam itu ketika ia memanggil ku “bajingan”… aku menoleh dan menatapnya curiga… “cukup” kata ini yang terucap di hati ku…

Ditariknya tangan ku, aku sempat menahan dan enggan… ingin rasa ku menolak, hingga terdengar bunyi logam bersentuhan yang diletakan di telapak tangan ku… sepasang cincin yang terukir nama kami berdua… cincin seukuran jari ku, yang terpahat namanya di linggar bagian dalam… masih teringat malam itu ku buang benda ini keluar jendela, biar hilang saja dan hapus semua memori… dan ku yakin barang itu tak akan kembali… biar saja dia hilang, agar kau lupa pada diri ku yang lusuh…

Sontak ku terduduk… terbayang usahanya mencari dan memperbaiki pecahan hati malam itu… “aku membunuh nya… aku yang melukainya…

sang ibu menghampiri ku dan berbisik… “Dia yakin kamu pasti datang !!!”… sebuah tatapan penuh keyakinan… hari ini cinta kami benar-benar terbukti… namun terlamat ini telah menjadi akhir… hingga sesaat pandangan ku buram dan semuanya menjadi gelap.

…. aku hilang ….