Image

Ini adalah tulisan santai… percaya deh, tulisan hasil pengamatan standar tanpa tools riset apapun, hanya tahapan observasi dan tidak ditujukan untuk mengambil kesimpulan apapun, murni hanya opini yang ingin di share ke siapapun, curhat tepatnya…

Dialog Pagi:

Babeh: Tong… ente besok bebantu ye di posko ibu Mega

Entong: Ya beh… besok kan sabtu beh… mo jalan neh ama bedu

Babeh: yeee… ini udeh mau pemilihan gubernur, kudu bener bener serius, butuh tenaga, dah sono jalan

Entong: males beh, kaga asik mending maen… lagian minggu besok dah janjian ame anak2 mo ngeduren di Parung !!! mayan libur sehari

Babeh: Eeeehhh Tong !!! motor jangan dibawa !!!

Dialog Siang:

Ayu: Ibu…. Gubernur Jakarta sekarang yang kumisan itu ya?

Ibu: wah nda tau nduk…

Ayu: itu loh bu yang namanya Foke

Ibu: aduh… ibu mana tau yang gitu gitu…

Ayu: yah terus besok milih siapa donk, ibu tau aja ngga

Ibu: yah ibu mah terserah kata bapak mu aja, lagian kamu kok tau tau gituan?

Ayu: iya bu dari Twitter… ini lagi ikut milih sama temen2

Ibu: Titer itu opo??

Dialog Sore:

Supir: Lai… kita harus bikin perubahan di Jakarta, masa trayek kita di kutak kutik terus

Kenek: Betul… Abang cari lah kawan di organda tu, nanti kita kasih inginnya kita, kalo oke nanti kita pilih bang

Timer: Wah apik… iso dadi duit kuwi cuk… proyek iku

Asongan: Lah emang abang abang punya KTP jakarta?

Supir: ta ada awak…

Timer: KTP dolly iso ra…

Asongan: ya ga bisa bangggg

kenek: ahhh tapi kan mereka ga tau, ta di cek pula dompet kita… hahaha

Dialog Malam:

Suami: Neng besok ba’da shubuh ula tidur deui nya… #Kode

Istri: aih si akang mah… pengen lagi ??? #Genit

Suami: naon tah si Neng… besok teh aya Pilkada, lumayan 6 calon minimal 600rb

Istri: beuhhh sa bodo teuing !!! #diPunggungin

Politik tuk beberapa kalangan memang sudah mulai menjadi tabu, semboyan anti politik atau labeling tanpa unsur-unsur politik seakan menunjukan gerakan perubahan… jadi antipati politik umumnya di salurkan menjadi sebuah gerakan “ogah milih”

Dialog di atas sedikit banyaknya menjadi beberapa penyebab utama hilangnya optimisme politik menuju kepada sebuah sikap antipati khususnya di kalangan Pemilih Pemula, Penduduk Lokal dan Pendatang (produktif, baik kalangan intelek maupun ekonomi lemah). Terlebih sekarang main parah, opini banyak terkontaminasi pemberitaan negatif media, media seperti angin kencang yang senantiasa menghembuskan beragam laporan tentang tindak tanduk oknum politik… Namun, topik bahasan oknum dan pelanggaran hukum jujur terlalu berat untuk dibahas… jadi lebih bijak kita bahas yang simple ajah…

dimulai dari fenomena antipati di kalangan….

  • Pemula

Anak muda, generasi baru, penasaran, suka bermain, pengalaman pertama, gemar berkumpul, dan umumnya teknologi sebagai media senang-senang…

Permasalahan pemilih pemula sebenarnya amat sangat simple, mereka hanya butuh contoh tanggungjawab terhadap negara, terhadap bangsa, dan terhadap dirinya kelak… tapi dari siapa? ya tentunya para orang tua, kakak, senior atau bahkan para politisi… Pemula layaknya kertas kosong, jadi bayangkan satu saja opini negatif mengenai politik hanya akan memberi nuansa trauma dalam hidupnya, olehkarena itu mereka memerlukan seluruh petunjuk mengenai apa yang benar dan salah, informasi sangat cepat tersebar, apalagi didukung sarana informasi yang semakin baik, bayangkan efek bola salju nya dimasa yang akan datang jika suatu tidak pernah diluruskan… amat sangat yakin jika suatu saat nanti, negara ini masuk ke fase diktatorial dimana demokrasi hanya mimpi….

ingat pesan dari pendiri bangsa ini Bung Karno, beliau meneriakan: “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, Beri aku sepuluh pemuda terbaik Bangsa, maka akan aku Guncang Dunia”

Gemetar… yak itu yang terasa saat menuliskan kutipan tersebut, begitu besar nilai pemuda dimana sang pemimpin, yang ku yakin sebesar itulah harapan bagi pemuda tuk menjujung demokrasi

  • Pendatang (produktif)

Beraktifiktas harian, terbagi atas golongan intelek/terdidik yang akrab dengan pemberitaan, golongan pekerja kasar/fisik/pekerja tidak tetap, buruh kecil,  serta golongan fakir dan miskin. Umumnya golongan intelek adalah warga konglomerat atau sub-Urban penunjang si kota besar, golongan pekerja kasar banyak tinggal tidak jauh dari lahan ekonominya, dan golongan miskin selalu berada di dalam kota dan menjadi lahan pencarian simpatik politisi

Pendatang ialah variasi urban, terkadang jumlah populasinya bahkan lebih dominan, seperti dalam kasus pilkada, Jakarta misalnya, warga non betawi lebih banyak dibandingkan wrga asli yang lebih banyak berada di Depok, Tangerang dan Bekasi.

Seiring dengan pola urbanisasi, pendatang akan selalu menjadi sorotan khusus… Demografi kaum pendatang menjadi sebuah “njelimet-isasi” (red-ngawur kerumitan) tersendiri… Sebagai contoh basis kesukuan selalu menjadi landasan dalam melakukan pola komunikasi, baik berupa dialek, kebiasaan hingga tata busana…

Antipati politik pada golongan pendatang umumnya terbagi atas alasan “terlalu mengerti” atau alasan “tak punya legitimasi menjadi pemilih”… Pemberitaan Media, Opini Publik, Media Sosial paling bertanggungjawab membuat banyak individu yang makin pintar dan ogah tertipu… sayangnya itu pula, jadi alasan “malas jalan” ke TPS, dan lebih gemar melakukan pemilihan di dunia digital, atau bisa disimpulkan (voting di inbox/timeline)… mungkin bisa jadi masukan untuk membuat TPS digital di masa mendatang

Pada kaum pendatang pekerja kasar, buruh kecil dan ekonomi lemah… bisa kita temui varasi sikap, seperti pihak…

1. Yang memiliki nasionalisme tinggi dan menginginkan perubahan, namun tak punya KTP setempat (untuk kasusnya Pilkada) dan yang memiliki nasionalisme tinggi dan menginginkan perubahan, namun tidak punya ongkos pulang atau cuti tidak mencukupi untuk pulang kampung (tuk kasus Pemilu), adanya peluang memilih di daerah domisili non KTP pun terkadang tidak tersosialisasi dengan baik

2. Yang oportunis, Pemilu apapun bentuknya adalah lahan bagi kaum pendatang, baik kalangan pelaku usaha, sampai karang taruna, bayangkan minimal 2 kali dalam 5 tahun (1 pemilu & 1 pilkada) kalangan ekonomi lemah adalah primadona, gak usah dilihat tulus tidaknya, bayangin manfaatnya aja walau sesaat… jadi ya masuk akal jika si “akang” di atas nunggu jatah serangan fajar setiap hari H. sisi baiknya, kelompok ini cenderung tetap menggunakan hak pilih, walau tergantung setoran mana yang paling ok

3. Yang antipati, cuek dan mengalir saja, tau kapan pemilihan di jamin pas rame-rame di jalan, bagi mereka “ga ngaruh”, bahkan ada tidaknya pemimpin tidak peduli, ada money politics tetep di terima, tp ga janji ke TPS… sial aja si kandidat yang ketemu kalangan ini, uang ilang suara nihil…

Solusinya untuk pendatang ialah konsitensi atas komitmen, Kandidat ataupun tim pendukugnya harus mampu konsisten dalam membentuk image klien dengan tataran yang seideal mungkin sesuai dengan kebutuhan segmetasi pemilih… Kandidat pun harus mampu berbicara dengan orientasi output dan outcome yang mencakup nilai-nilai universal dengan berorientasi program riil yang masuk akal

  • Lokal

Muatan budaya yang selalu menjadi opsi untuk terlihat membumi atau tahapan akulturasi, terlepas dari segi kualitas individu di dalamnya. Kedekatannya dijalin dengan pencitraan identitas etnik

Mendekati Ramadhan, baju koko laku kurma dimana-mana… sama dengan pilkada, di jakarta mendadak banyak andong warna warni dan beskap betawi, peci dan sarung menjadi mode… Tahun 2009 dimanapun kandidat nasional merapat atributnya pasti lokal…

DAN hal tersebut SAH, bagus malah !!! (kalo ga mau dibilang kapan lagi)

Sumber antipati bukan disana, tetapi ada ditataran sikap terhadap segala perbedaan di masyarakat, Bangsa ini masih menjunjung tinggi Ego kedaerahan, terlebih ketika menilai asal muasal si kandidat, diluar kualitas si kandidat, ini yang secara bertahap harus dirubah… Amerika Serikat berasil melakukan gebrakan terhadap dominasi “white Irish Catholic” -klasifikasi menjurus Rasis memang tapi fakta ini terjadi- dalam pencalonan Barrack Obamma… Kontradiktif dengan kondisi di Indonesia dimana masih sering terdengar banyak candaan nama presiden harus “O” atau kejawa-jawaan… (banyak contoh lain)

Untuk daerah, embel-embel putra derah memang terkadang terlihat seksi tuk beberapa kandidat, namun kenyataannya kadang labelisasi itupun tidak melulu “jujur”, ada di beberapa daerah kandidat yang menjual label lokal, padahal… ia sendiri bukan orang setempat… artinya sumber informasi pun masih sangat mudah di kamuflase terlebih dalam lingkungan masyarakat yang kurang akses informasi.

selain itu yang menarik di daerah, ialah banyaknya kandidat yang menjual nama lokal secara berlebihan, padahal sebenarnya voter lokalnya tinggal di daerah luar area pemilihan… dan dengan senang hati dalam kasus ini si political strategist nya lah yang dudul… hahaha

Solusi antipati yang ini agak sedikit sulit, mengingat semangatnya pembedanya sangat-sangat hakiki seperti agama, etnisitas ataupun suku… jadi memang perlu kajian mengenai metode sosialisasi berkelanjutan yang tepat mengenai keberagaman, serta kinerja bersama dari seluruh pihak terkait diimbangi peran serta budayawan nasional maupun lokal untuk menularkan nilai nilai Bhinneka Tunggal Ika. Namun berhubung tidak ada kajian ilmiah disini, jadi ga usah di bahas yaaaa… hahaha *ngeles*

 

Opini penutup:

Khusus untuk penduduk baik pendatang maupun lokal yang berlabel oportunis dan apastis, saya setuju untuk tidak dihilangkan tapi di modifikasi sedikit, sifat matre nya harus tetap di jaga terhadap target2 tertentu… tujuannya tak lain biar si politisi dengan mental korup itu apes dan tekor… Semoga tim sosialisasi KPU mengajarkan masyarakat cara untuk memilih mana kandidat terbaik dan mana kandidat korup, sekaligus menyampaikan semangat “KITA buat politikus kotor itu Kere !!!” hihihihi

Image

Jadi apa opini mu?